Lagu Daerah Maluku

Lagu Daerah Maluku

Lagu Daerah Maluku – Sejak dahulu kepulauan Maluku dijuluki oleh bangsa Eropa sebagai kepulauan rempah-rempah. Hal ini karena kepulauan Maluku sejak dahulu ditemukan banyak sekali rempah-rempah terutama pala, cengkeh dan kayu putih.

Kepulauan Maluku dibagi menjadi dua yaitu provinsi Maluku Utara dan provinsi Maluku. Karena dari perbedaan pulau itu menjadikan Maluku memiliki kebudayaan yang berbeda pula. Berikut penjelasan singkat mengenai sejarah. budaya dan berbagai macam lagu daerah Maluku beserta maknanya.


Sejarah Kepulauan Maluku

Lagu Daerah Maluku

Maluku termasuk ke dalam pulau yang tertua semenjak diresmikannya kemerdekaan di Indonesia. Namun, baru diresmikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 tahun 1958. Dahulunya pulau yang kaya akan rempah-rempahnya ini menjadi perebutan antara negara Belanda, Arab, Portugis, Jepang, dan penjajah lainnya. Bagi mereka pulau Maluku merupakan tambang emas yang menguntungkan bagi mereka. Hingga akhirnya masyarakat Maluku berjuang merebut kembali tanah mereka.

Baca Juga: Lagu Daerah Minangkabau


Budaya Daerah Maluku

Lagu Daerah Maluku

Negara Indonesia memiliki budaya daerah yang beraneka ragam, sama halnya dengan budaya di pulau Maluku. Budaya dan tradisi dari nenek moyang tetap dilestarikan keberadaannya hingga saat ini. tradisi dan budaya tersebut yang menjadikan pulau Maluku memiliki ciri khas tersendiri. Sebelum menjelaskan mengenai lagu daerah Maluku, berikut beberapa budaya daerah Maluku yang perlu diketahui :

1. Budaya Kalwedo

Budaya ini memiliki makna kepemilikan kehidupan secara bersama-sama. Dahulunya budaya ini tercipta karena ingin menyatukan masyarakat Bar-Bar dan masyarakat Maluku Barat Daya. Hal ini karena keinginan dari masyarakat yang mempererat tali persaudaraan diantara keduanya dengan budaya yang sakral. Budaya Kalwedo dilakukan dengan hidup berdampingan dengan saling berbagi dan membantu satu sama lain dalam sosial, budaya, ekonomi dan potensi alam.

2. Hawear

Dahulunya ada seorang gadis yang akan melakukan perjalanan ke kerajaan raja. Karena sang ayah dari gadis itu tidak ini dalam perjalanannya terjadi kejahatan, maka ayahnya memberikan sebuah janur kuning (Hawear). Hawear memiliki makna kepemilikan siapapun yang menggunakannya berarti ia telah dimiliki seseorang. Budaya ini masih dilakukan oleh masyarakat sekitar kepulauan Kei hingga saat ini.

3. Batu Pamali

Batu Pamali merupakan batu dasar yang kemudian diletakkan disamping rumah Baileo. Makna dari adanya Batu Pamali ini adalah bentuk atau sistem yang diharapkan dapat menjadi pemersatu perbedaan antara kelompok-kelompok orang yang bernama Soa-Soa. Benda ini tidak menjadi kepemilikan perorangan atau per kelompok, melainkan dimiliki oleh seluruh penduduk desa tersebut. padahal mereka memiliki kelompok dan latar belakang agama yang berbeda.

4. Fangnea Kidabela

Masyarakat kepulauan Tanimbar yang saat ini berubah menjadi Kabupaten Maluku Tenggara Barat memiliki tradisi yaitu upacara Fangnea. Upacara ini bertujuan untuk menciptakan kehidupan dalam masyarakat yang kokoh dan kuat. Dan persatuan juga kesatuan akan terjaga dengan lebih baik dalam situasi apapun. Dengan adanya upacara Fangnea ini nantinya diharapkan dapat mencegah perpecahan antar kelompok dan juga kehancuran.

5. Arumbae

Mayoritas masyarakat dikenal memiliki pekerjaan sebagai nelayan yang membuat budaya Arumbae memiliki simbol yang menunjukkan orang Maluku yang berlayar. Arumbae juga bisa disebut sebagai kebiasaan masyarakat Maluku yang memiliki sifat pantang menyerah dan terutama untuk masa depan yang diidamkan. Hal ini juga disimbolkan dengan dahulunya para nenek moyang yang berjuang mendayung untuk menghadapi tantangan di lautan.

6. Makan Patita

Makan Patita tidak seperti makan pada umumnya yang dinamakan prasmanan. Acara ini dilakukan hanya ketika ada perayaan di hari-hari penting dan di hidangkan dalam jumlah besar. Biasanya makan Patita dilakukan ditempat terbuka seperti di lapangan, jalan, pesisir pantai atau di tempat lainnya yang dirasa cukup luas untuk menampung banyak orang.

7. Pukul Sapu atau Manyapu

Pada abad ke-16 dahulunya berawal dari kisah tiang masjid patah, dan untuk menyambung kembali tiang tersebut para leluhur menggunakan minyak Mamali. Dari sejarah itu membuat mereka kembali penasaran dengan khasiat minyak Mamali yang luar biasa. Mereka membuat percobaan dengan memerintahkan dua orang pemuda untuk saling memukul hingga menimbulkan luka dan mengoleskan minyak tersebut.

Baca Juga: Lagu Daerah Jakarta


Macam-Macam Lagu Daerah Maluku

Lagu Daerah Maluku

Setelah mengetahui budaya apa saja yang ada di pulau Maluku dengan keunikannya, berikutnya disini juga akan dibahas beberapa lagu daerah yang berasal dari Maluku beserta maknanya. Karena tidak lengkap jika hanya mengetahui budaya daerahnya saja tanpa mengetahui lagu daerah dari pulau yang sejak dulu terkenal dengan rempah-rempahnya. Ini penjelasannya:

1. Borero

Ora tau Kiyema dorari suba
Borero kira mose karema linga

Bao gosa sonyinga ma bicara
Ora talu wosa lupa badan fira

Borero to sinyinga ima fira

 

Kie gulu gosa badan ma singsara

Gate ifa la to sone bato

Biar to sone to sinyinga borero

Lagu Borero yang memiliki arti sebuah pesan ini berasal dari Maluku Utara. Dimana lagu ini menceritakan seseorang yang teringat akan sebuah pesan dan mengingatkan dengan kekasihnya. Kerinduan akan kekasihnya yang diibaratkan terletak di gunung yang jauh membuatnya sengsara. Dan lebih baik ia mati sambil mengingat akan pesan itu.

2. Ayo Mama

Ayo mama, jangan mama marah beta
Dia cuma, dia cuma pegang beta
Ayo mama, jangan mama marah beta
Lah orang muda punya biasa

Ayam hitam telurnya putih
Mencari makan di pinggir kali
Sinyo hitam giginya putih
Kalau ketawa manis sekali

Ayo mama, jangan mama marah beta
Dia cuma, dia cuma pegang beta
Ayo mama, jangan mama marah beta
Lah orang muda punya biasa

Lembe-lembe makan ketupat
Kondo bujang di air mangir
Mambu reweh mau bersumpah
Lah ingat bujang terlalu manis

Ayo mama, jangan mama marah beta
Dia cuma, dia cuma pegang beta
Ayo mama, jangan mama marah beta
Lah orang muda punya biasa

Menceritakan seorang ibu yang sedang marah karena anaknya disentuh atau dipegang oleh orang lain. Namun sang anak memintanya untuk tidak marah karena ia masih muda jadi tidak perlu khawatir jika disentuh. Baris selanjutnya dari lagu itu yaitu tuan yang berkulit hitam namun memiliki gigi yang putih jika tertawa manis sekali.

3. Waktu Hujan Sore Sore

Waktu hujan sore-sore
Kilat sambar pohon kanari
E jujaro deng mongare
Mari dansa dan manari

Pukul tifa toto buang
Kata balimbing dikareta
Sio nyong hati tuang
Jangan geser tinggal beta

E manari sambil goyang badange
Manari lombo pegang lenso manisse
La rasa rame jangan pulang doloe

Lagu yang termasuk dengan lagu anak-anak ini termasuk kedalam beberapa lagu daerah Maluku beserta maknanya selanjutnya. Menceritakan tentang turun hujan pada saat sore hari. Waktu yang baik untuk menari dan menyanyi bersama. Saat menari janganlah terburu-buru untuk berhenti karena bernyanyi dan menari beramai-ramai sangatlah mengasyikkan.

4. Sarinande

Sarinande, putri Sarinande
Mengapa tangis matamu bangka

Aduh mama, aduh la papa
La asap api masuk dimata

Aduh mama, aduh la papa
La asap api masuk dimata

Dalam lagu ini menceritakan Sarinande yang seorang gadis remaja asal Maluku yang bengkak matanya hingga membengkak karena meniup api tungku. Tradisi dari warga Maluku mengharuskan seorang gadis untuk ahli dalam keterampilan dalam mengurus rumah. Terutama gadis yang akan memasuki jenjang pernikahan. Gadis Maluku akan diuji dulu kesabaran dan perilakunya.

5. Buka Pintu

Buka pintu buka pintu, beta mau masuke
siolah nona nona beta, adalah di mukae
beta panggil tidak menyahut, buka pintu juga tidak mau
siolah nona beta mau masuke he he he he
buka pintu buka pintu, beta mau masuke
siolah nona nona beta, adalah di mukae
ada anjing gonggong betae, ada hujan basah betae
siolah nona beta mau masuke he he he he

Lagu daerah ini terkenal sebagai lagu anak-anak yang menceritakan Beta dan Nona. Beta meminta sang nona untuk membuka pintu, namun si nona tidak juga membukakan pintunya. Beta beralasan hujan dan juga digonggong anjing tak juga meluluhkan hati Nona untuk membukakan pintu.

6. Huhate

Orang muda huhate bae bae
Jangan sampai dapat kulit durian
Pasang mata telinga
kalau mencari teman
Jangan sampai dapat kulit durian

Orang muda huhate bae bae
Jangan sampai dapat kulit durian
Pasang mata telinga
kalau mencari teman
Jangan sampai dapat kulit durian

Huhate, huhate
huhate huhate bae bae
Jangan sampai
sembarang oranglah tagai

Sioh jangan, sioh jangan
jang paparipi
Kulit durian sio baduri

Orang muda huhate bae bae
Jangan sampai dapat kulit durian
Pasang mata telinga
kalau mencari teman
Jangan sampai dapat kulit durian

Orang muda huhate bae bae
Jangan sampai dapat kulit durian
Pasang mata telinga
kalau mencari teman
Jangan sampai dapat kulit durian

Huhate, huhate
huhate huhate bae bae
Jangan sampai
sembarang oranglah tagai

Sioh jangan, sioh jangan
jang paparipi
Kulit durian sio baduri
Kulit durian sio baduri

Dalam lirik ini menceritakan orang-orang Huhate yang yang baik jangan sampai mendapatkan kulit durian. Lagu ini memiliki makna bahwa dalam mencari teman haruslah hati-hati. Karena karakter dan sifat seseorang yang baru ditemui belum bisa diketahui. Seperti peribahasa jika dekat dengan penjual parfum, akan tertular dengan wanginya. Ketika seseorang dalam berteman pastinya sedikit banyak akan terpengaruh dengan kebiasaannya.

7. Rasa Sayange

Rasa sayange… rasa sayang sayange…
Kulihat dari jauh rasa sayang sayange
Rasa sayange… rasa sayang sayange…
Kulihat dari jauh rasa sayang sayange

Jalan jalan kekota paris
Lihat gedung berbaris baris
Anak manis jangan menangis
Kalau menangis malah meringis

Rasa sayange… rasa sayang sayange…
Kulihat dari jauh rasa sayang sayange
Rasa sayange… rasa sayang sayange…
Kulihat dari jauh rasa sayang sayange

Sana belang disini belang
Anak kucingku yang manis
Sana senang disini senang
Ayo kita menyanyi lagi
Rasa sayange… rasa sayang sayange…
Kulihat dari jauh rasa sayang sayange
Rasa sayange… rasa sayang sayange…
Kulihat dari jauh rasa sayang sayange

Dahulunya lagu ini sempat menjadi perebutan oleh negara tetangga yaitu Malaysia. Hingga pada akhirnya dari Indonesia bersikeras mengklaim bahwa Lagu ini merupakan lagu daerah dari Maluku. Pada salah satu bait yang merupakan sebuah peribahasa dimana jika ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi. Dalam lirik itu memiliki makna bahwa jika nanti masih diberikan umur yang panjang ada baiknya bertemu kembali atau silaturahmi.

Itulah beberapa lagu daerah dari daerah Maluku beserta maknanya. Masih banyak lagi Lagu daerah Maluku yang wajib diketahui. Selain sebagai warisan budaya, mengetahui lagu daerah juga menumbuhkan cinta akan kekayaan budaya di Indonesia.

Lagu Daerah Maluku

Lagu Daerah Palembang

Vera Apriani
5 min read

Lagu Daerah Lampung

Vera Apriani
7 min read

Lagu Daerah Jawa Tengah

Vera Apriani
4 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published.